Kebebasan Berpendapat??
warning: it's a very long post. about 800 words. i wrote it myself. i just feel i need a release of these opinions that's been bugging my mind.
---
Gw muak dengan kasusnya Prita Mulyasari dan para simpatisannya.
Hey… Kebebasan berpendapat, kan?
Awalnya gw masih peduli sama kasusnya. Tapi sikap simpatisannya yang berlebihan bikin gw jadi muak. Mereka dengan mudahnya membela atas dasar memperjuangkan kebebasan berpendapat.
Gw rasa, simpatisan itu ga pernah ngerasain yang namanya penghinaan langsung di Internet.
Gw pernah. Dan itu sakit. Bikin gw pengen nuntut jalur hukum, padahal itu sama saudara sepupu gw sendiri. Yeah, gw udah mau berangkat ke kantor polisi untuk bikin Berita Acara Pidana, tapi keluarga gw nahan-nahan gw. I’m just nobody, but if anybody insult my parents and me, it’ll get my nerves to my every nerve ends. And the worst part was, somebody who didn’t even know me, insulted me too because it was posted on the Internet.
Semua orang bisa dengan gampangnya bersimpati dengan menempatkan dirinya di posisi lemah yang mengajukan aduan. Bayangkan kalau aduan itu berubah jadi hinaan publik, yang bahkan orang yang ga ngerti elo ikut2 nyalahin elo dan ga suka ama elo.
Menurut gw, pihak yang diadukan oleh si lemah ini, berhak untuk marah dan menuntut penghinaan terhadap si lemah.
Bayangin, orang2 yang bukan saksi mata, apalagi Tuhan, mereka ga liat kejadiannya kaya apa tapi mereka ikut2an komentar ga suka atas dasar kebebasan berpendapat si lemah yang diumbar di Internet. Yang akhirnya muncul opini publik menjelek2an elo, padahal elo belom tentu sejelek itu.
Internet is harmful enough, but words are sharper than swords and it can slice your heart into pieces.
Gw tim netral. Gw ga berpihak pada apapun. Gw cuma mau ngejelasin kalo gw melihat The Big Picture. There are always two sides of every story.
Tentang apa yang sebenernya di alami oleh si lemah ini sampai2 dia membuat Surat Pembaca, gw cuma mau komentar bahwa gw bukan Tuhan dan bukan saksi mata, gw ga liat kejadiannya diapain, jadi biarin aja itu jadi masalahnya mereka.
Yah.. gw masih netral.
Tapi sekarang gw muak banget dengan kasus dan para simpatisan itu.
Terutama karena aksi pengumpulan koin.
Let me give a bright point of view first (before I make the snarky one), which is just: Ternyata uang koin, kalau rajin dikumpulin bisa jadi ratusan juta rupiah.
Bukannya gw ga bangga jadi orang Indonesia, tapi rasanya gw malu banget ama orang Indonesia yang gampang banget dipengaruhi. Mereka ga berpikir panjang. Cuma karena ngeliat orang teraniaya, langsung simpati. Apalagi ditambah blow-up dari media.
Please, see another side of the story first. Or at least, use your brain, not just following what others follow.
Gw sangat ga suka dengan pengumpulan koin untuk Prita.
Walaupun yang simpatisan pengumpul koin beragam dari mulai orang dewasa sampai anak kecil yang ga tau apa-apa, dari konglomerat sampai pemulung… Menurut gw, semua orang itu cuma sekedar ikut-ikutan aja. Yah, boleh lah ada yang karena emang peduli kasusnya, dan mengatasnamakan memperjuangkan kebebasan berpendapat.
Tapi apakah cara memperjuangkan kebebasan berpendapat harus dengan mengumpulkan uang?
Pertama, buka lagi kasusnya deh… No, not the chronology one, but her background. Si lemah ini, termasuk orang berada. Ga bisa disebut miskin. Punya mobil, punya rumah, berpendidikan, berobat ke RUMAH SAKIT SWASTA, dan diganti asuransi. Dari 5 poin itu aja, masih berjuta-juta masyarakat Indonesia yang bahkan ga memiliki salah satunya.
Apakah itu termasuk keadilan? Menyumbang untuk orang yang berada, sementara masih berjuta-juta penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan.
Ga usah terlalu luas deh.. Liat sekeliling. Kebetulan di depan rumah gw ada perkampungan kecil berisi rumah-rumah kontrakan petak-petak, kamar mandinya di luar untuk beramai-ramai. Pekerjaan mereka dari mulai supir angkot, tukang sayur, tukang cuci, atau kuli bangunan. Orang-orang kaya mereka lebih berhak di bantu daripada si lemah itu.
Berkat blow up dari media, kasus si lemah ini dapet bantuan dari hampir se-Indonesia. Sementara orang-orang disekeliling kita terlupakan untuk kita bantu.
Selama pendidikan ini, gw belajar di Pusat Rujukan Nasional milik pemerintah sampai ke pelayanan primer di Puskesmas. Dan semuanya sama. Tetep aja masih banyak orang-orang yang bahkan belum bisa dapet pelayanan kesehatan. Bayar 2 ribu perak untuk karcis puskesmas aja ga bisa. Ada juga pasien-pasien yang pelayanannya tertunda karena tidak ada biaya, padahal pelayanan itu bisa menyelamatkan hidupnya. Untungnya masih ada program GAKIN/SKTM/Jamkesmas untuk mereka, tapi masih ada juga yang ga tau program tersebut dan akhirnya ga mendapat pelayanan kesehatan.
Sementara si lemah, berobat di swasta, dan dapet penggantian asuransi.
Daripada koin-koin itu dikumpulin untuk memperjuangkan keadilan kebebasan berpendapat , mending diberikan kepada yang membutuhkan, beri untuk pelayanan kesehatan. Karena pada dasarnya, si lemah mengeluhkan pelayanan kesehatan kan?!
Pada intinya sih, masih banyak orang-orang di Indonesia yang lebih membutuhkan koin-koin itu daripada si lemah. Bahkan dengan beberapa koin pun, orang-orang Indonesia bisa menyambung kehidupannya sehari-hari.
Gw, sebagai orang yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan, cuma bisa berharap sistem pelayanan kesehatan di Indonesia jadi lebih baik. Dan sebagai bagian dari masyarakat, gw berharap orang-orang lebih bijak dalam bertindak dan berbicara. Ga semata-mata kebebasan berpendapat, semua orang bebas ngomong apa yang mereka pengen omongin. Ga semata-mata orang berpikir A atau melakukan B, semua orang jadi ikutan mikir A dan melakukan B.
Penutup, ini kebebasan berpendapat kan?
And I like to blab and give snarky comments.
Monday, December 14, 2009 | Labels: meds hurt, opinion | 1 Comments
my disrespect and my support
disclaimer : postingan ini murni opini pribadi. ga ada maksud untuk menyinggung ataupun menghina. jadi tolong, jangan tuntut saya atas tuduhan penghinaan.
postingan ini murni uneg2 pribadi.
seperti judul blog ini: blabbernad.
i'm Nad, and i sometimes blab.
(blab per dictionary.com : to talk or chatter indiscreetly or thoughtlessly)
gw sangat tidak suka dengan presiden SBY.
dari awal. dari kepemerintahannya thn 2004/2009 pun gw udah ga suka. entah kenapa, gw merasa kepemimpinannya beliau sering mendatangkan bencana. entah bencana alam (dari mulai Tsunami Aceh diawal kepemimpinannya bahkan sampe gempa Padang di akhir kepemimpinannya), ataupun kecelakaan transportasi massal.
dan yang paling gw ga suka, entah kenapa gw merasa presiden indonesia yang satu ini kaya reality-freak-show. dari mulai beliau menciptakan lagu dan 'memaksa' orang untuk menyanyikan lagunya, menikahkan anaknya dan membuat cucunya lahir di hari kemerdekaan, dan beberapa kegiatan lainnya yang membuat beliau supaya disorot media massa yang bahkan media infotainment.
gw ga gitu merhatiin politik, dan gw ga merhatiin tentang kebijakan2nya ataupun kinerjanya. lha wong yang lebih keinget ama gw adalah kegiatan2nya yang ga penting yang ampe disorot infotainment.
tapi ada yang gw inget. di masa kepemimpinannya, pemerintah menaikkan harga bbm berulang kali. dengan dalih kenaikan harga minyak dunia. tapi menjelang pemilu lagi, thn 2009, pemerintah nurunin harga bbm lagi. bahkan keberhasilan dia untuk menurunkan harga minyak dijadikan iklan kampanye partai politiknya. What the...
tapi, titik puncak rasa tidak suka gw adalah kemarin ini.
saat Prof Nila batal menjadi Menteri.
gw ga memerdulikan background dan program kerja yang akan dibawa oleh (misalnya) Prof Nila ataupun Menteri-terpilih, walau gw mendengar ada konspirasi dibalik menteri-terpilih. gw cuma makin ga suka ama dgn SBY.
Ga punya hati.
bikin acara "pemanggilan calon menteri" kaya audisi reality show. dan lebih gilanya lagi, kalo audisi kan beberapa kontestan memperebutkan satu posisi.. ini yang dipanggil cuma 1 kontestan untuk 1 posisi.
eh, ternyata bukan 1 kontestan yang dipanggil itu yang dapet Posisi itu.
Sakit!
emang sih, yang "dipanggil" itu baru "calon" menteri. tapi kenapa cuma Prof Nila aja yang bernasib begitu.
gw aja kaget waktu tante Linda - yg sekarang terpilih jadi menteri - dipanggil. it never crossed in our mind, ours as in my family's. tante Linda adalah salah satu temen kuliah bokap/nyokap gw, walau akhirnya dia drop out dari jurusan bokap/nyokap gw. tapi akhirnya, tante Linda yang dipanggil hari itu, tetep dipanggil untuk jadi menteri.
terlepas dari alasan apa yang dibuat pak presiden untuk membatalkan prof Nila jadi menteri, tetep aja menurut gw keputusan yang dia buat adalah keputusan paling bodoh.
bikin dia makin dihujat orang.
salah satunya gw ini.
waktu di bagian mata, gw emang ga sempet diajar prof Nila.
tapi di mata gw, beliau tetep seorang Profesor, seorang guru besar di tempat gw belajar, di Universitas Indonesia - pusat ilmu budaya bangsa. (reminds of someone, anyone?)
opini gw ini, mungkin emang girlish.
walau katanya prof nila sndiri sudah berbesar hati.
tapi, gw ngerti rasanya sakit hati itu.
anggep aja udah diajak naik pesawat ulang alik pergi ke mars, tiba2 *BAM!* pesawatnya meledak dan harus terjun bebas ke daratan dari ketinggian atmosfer. atau mungkin lebih tepatnya, pesawatnya bukan meledak. kapten pilotnya mencet tombol "Launch" untuk kursi lo, dan akhirnya lo terlempar dari pesawat.
yah.. kira2 itu yang gw bayangin, kalo gw jadi prof nila.
ugh.. kenapa orang yang ga punya hati kaya gtu yang jadi presiden Indonesia ya? i think i just have to endure 5 more years.
Saturday, October 24, 2009 | Labels: opinion | 1 Comments
Bad things happen everyday
Maybe I don't have a heart. I've told you that I have tendency to have schizoid personality disorder which is sort of cold-heart, no empathy.
There were blasts in Jakarta yesterday.
Most of my friends (I read it on my facebook account), cursed the terrorist for those attacks. They blamed terrorist for any reason. and among my friends, I could say that I didn't have any emotions of what happened yesterday.
And here's my point of view.
I'm trying to see the bigger picture. I had felt - and maybe sort of forecasting (ask my dad if you don't believe it, I had told my dad) since before President election that there was something wrong happened and about to happen.
the world is no longer safe place. I said, the WORLD. Not Indonesia only.
I know people had that words since ages. but I was asking my dad few days ago, "What's going on with this world?"
since I don't have anything to do this holiday, I spent my days just watching TV and internet browsing. the more I watched, the more I knew bad things happened.
I was not too noticing what happened in World news. because all local TVs mostly covered the news of Michael Jackson's death. I just remembered about plane crashes and Iran election.
I was more noticing about local news. Lots of bad things happened. I don't care about election, I used my voice in not-voting.
- there were fires everyday. a gas or stove explosion, but happened almost day by day. were people just being the same reckless everyday?
- there was hot mud explosion in East Java that seemed never coming to an end.
- there were mysterious shooter attacks in Papua.
- there was 15 billion rupiah robbery.
- there were swine flu which getting more pandemic.
Not to mention some news of personal reckless like a car fell from 2nd floor, suicidal attempts, new students death of bullying and babies death because their parents missing.
And I knew, those news were not relate each other.
but didn't you see the big picture that Bad things happened everyday.
and yesterday was the big one.
suddenly people showed their empathy and other emotions (read: hatred by cursing terrorist).
suddenly people cared about each other, cared of Indonesia.
what do people feel about the news I mentioned above?
Nothing!
people just freaked out because the blast happened just before Man Utd arrived in Jakarta. It would show that Indonesia was not a safe place.
Indonesia is not a safe place, People!
but Indonesia is a beautiful place.
though I haven't visited most places in Indonesia, I know Indonesia is beautiful.
Stop cursing, people! Stop being bad mouth and bad thinkers.
I'm not pro terrorist. and I said, I'm not good with empathy.
instead of cursing, you'd better do what you can do.
if there's nothing you can do, then it's better you do nothing rather than being bad mouths.
in conclusion,
I said that the world is no longer a safe place.
bad things could happen anytime, anywhere.
who knows, maybe today is the end of the world. or just the end of your life.
and you may hear these words so often: do your best, let Allah do the rest. spend more time with your loved ones, your family and friends. because you only know what you've got til it's gone.
Saturday, July 18, 2009 | Labels: contemplations, daily dose, opinion | 0 Comments
-
UTOPIST ??!!!10 years ago
-
Kelas Dede Kecil Putik Duren Sawit11 years ago
-
-
-
-
-