Showing posts with label informations. Show all posts
Showing posts with label informations. Show all posts

VISIT INDONESIA!!!

yeah! sure, please visit Indonesia.
pada awalnya gw termasuk "mencemooh" kampanye Visit Indonesia year 2008. bikin logo burung garuda aja ko ampe 2 milyar.

tapi sekarang, saat ini, gw punya cita-cita baru:
Keliling Indonesia

cita-cita jadi dokter sih masih... sempet terpikir kalau lulus jadi dokter, gw PTT ke daerah yang terpencil. bukan karena distribusi dokter yang kurang, tapi karena pengen liat sisi lain Indonesia sekaligus liburan. tapi setelah gw pikir2, dan setelah gw utarakan ke orang tua gw, kayanya mereka ga setuju.

gara-gara gw sering liat iklan ttg WOC (World Ocean Conference) yg diselenggarakan sekarang di Manado dari beberapa minggu yang lalu,
dan gara-gara liat iklan nicholas saputra di Channel V bahwa dia punya obsesi untuk mengunjungi 17,000 pulau Indonesia,
gw jadi terpikir kalo gw sangat belum melihat Indonesia.

gw lagi merencanakan liburan panjang nanti: lombok-mataram-p.Komodo.
mulai cari-cari info di internet.
salah satu situs bagus yang boleh diliat: Potlot Adventure

Gosh! Banyak banget tempat bagus di Indonesia yang bahkan ga pernah terpikir ama gw.
Mungkin itulah alasan kenapa gw belum benar-benar bisa mencintai Indonesia. as an Indonesian, I don't even know the beauty of my country. fool me.

I really want to travel Indonesia!

My Menstrual Migraine

First, my post is not a scientific journal. don't copy-paste my post as a reference for your study.

I'm on Neurology rotation.
and today I had a discussion about migraine today.
I am having menstrual migraine. it occurs because of the drop of estrogen level on menstrual cycle, not because the low level of estrogen.
My teacher said that I will routinely have this migraine until I pass menopause. It brings me down.

I hate this pain. why I should carry it for the next decades of my life??
what had I done wrong?

My teacher said that I should read it. and then I googled it.

if I should get a case presentation about headache, i would present my migraine... but unfortunately, i have to present medulla spinalis disorder.

History
9 years ago, when I was 13, I got my first period. I didn't have any complains every time I got period. none of any menstrual pain, even a slight menstrual cramps (sharp pains in a woman's lower abdomen).
5 years ago, when I was 17, my period had been on right on schedule(but sometimes had not.) I started to feel that cramps on my period occasionally.
few periods before I turned on 18, i started not to feel any cramps but an unilateral headache.
(I remembered the headache start when I was 18 because I broke up with my boyfriend when I was having terrible unilateral headache. I think that was my third headache attack)
4 years ago, or one year after the first time I had the headache. I had a prescription for my migraine for the first time. I consulted a doctor for a fever (I was having Dengue Fever), and an unilateral headache. The doctor who gave me the prescription was an internist. he gave me Cafergot (Ergotamine tartrate 1 mg, caffeine 100 mg). I bought it myself, but rarely take it on every attacks.
Since I was 18 until today, I have a routine headache. usually it starts ONE day before I get my period and last to ONE day of my period. I usually suffers for 48hours.
The headache is a pulsating headache. from I was 18 to now, it only occurs on my right side. the intensity is from moderate to severe. I sometimes feel better if I knock my head to the wall (yeah, I did knock my head to the wall seriously). I sometimes feel nausea but never vomit. and I can't stand on too bright light.
I don't have any family history with migraine. It's only me who have a migraine.
I don't respond to on-the-counter pain killers. I don't respond to Paracetamol or Mefenamic acid. Sometimes I respond to Neurodial (Methampyrone 500 mg, diazepam 2 mg), but mostly don't. But I have good respod to Cafergot.

Discussion
I fulfill the Migraine criteria

    Migraine without aura Diagnostic criteria:
  • (A) At least five attacks fulfilling criteria B-D
  • (B) Headache attacks lasting 4-72 hours (untreated or unsuccessfully treated)
  • (C) Headache has at least two of the following characteristics:(1) Unilateral location(2) Pulsating quality(3) Moderate or severe pain intensity(4) Aggravation by or causing avoidance of routine physical activity (eg, walking or climbing stairs)
  • (D) During headache at least one of the following:(1) Nausea or vomiting or both(2) Photophobia and phonophobia
  • (E) Not attributed to another disorder.
and it fulfills menstrual migraine criteria
Pure menstrual migraine without aura

Diagnostic criteria:

  • (A) Attacks in a menstruating woman fulfilling criteria Migraine without aura of International Classification of Headache Disorders (ICHD).
  • (B) Attacks occur exclusively on day 1 (±2 days) (that is, days −2 to +3) of menstruation in at least two out of three menstrual cycles and at no other times of the cycle.

More about menstrual migraine.... you can google it.
but i like this article. and this (for a simpler reading).
I'm too tired to sum it on my post today. I still have that migraine right now.

break a while

duh.. lagi ga blogging dulu nih..
mau ujian (tapi blom belajar juga)
dan..
lagi ada proyek mengelola online shop-nya mba Nina...

mampir-mampir ya..
dan nanti klo udah ada barang2nya, jangan lupa beli...
d'Upperground

........
tadi siang gw palpitasi.
tapi kali ini penyebabnya ga jelas..
(sebenernya jelas sih..)
gara2nya gw minum Nescafe original...
biasanya gw ga langsung berdebar-debar kaya tadi pagi...
abis gw ngantuk banget, dan gw mesti ngerjain riset dulu..
alhasil, pas riset tangan gw yang ada tremor parah.
yaa gara-gara berdebar-debar itu

.........
gila ya..
tarif angkot naik..

dan yang lebih gilanya lagi, tadi gw nonton di TV, tarif parkir mau naik jadi 35,000/3jam di tempat perbelanjaan..
katanya tujuannya utk mengalihkan orang2 supaya pake kendaraan umum dan mengurangi jumlah penggunaan mobil..
tapi yaa mbo' kendaraan umumnya dibenahin dulu...
orang2 banyak koq yang mau naik kendaraan umum dan males nyetir, tapi ngeliat keadaan kendaraan umum kaya sekarang, orang lebih milih naik kendaraan pribadi...

isu cara masuk.hehe

beberapa hari ini gw dan teman gw membicarakan topik
mau ambil spesialis apa setelah lulus jadi dokter nanti.

sebenernya masih lama.
dan.
menurut gw jg ga ada salahnya bercita2.

beberapa kakak kelas gw kemaren2 ini sibuk dengan ujian PPDS (program pendidikan dokter spesialis). mereka baru lulus sept 2007 kemaren, dan baru ambil tes semester ini. dan alhamdulillah, mereka diterima di departemen yang mereka inginkan.

gw jg mulai dari sekarang bertanya2 gmn cara masuk ppds.
sebenernya gw blm memantapkan hati pengen ambil spesialis apa.
masuk klinik aja belom. ntar klo udah masuk klinik baru deh berasa susah senangnya di departemen itu.
saat masuk FK, gw terpikir pengen jadi obgyn. stelah melewati berbagai modul, pilihan gw jg jadi berubah-ubah lagi.

ada yg bilang, beberapa departemen pengen ada pengalaman PTT dulu. ada yang bilang yang penting lulus tes. ada yang bilang mesti ngedeketin seseorang dari departemen itu. ga ngerti ah..

gw lagi teringat percakapan dengan PPDS pembimbing KKD gw waktu itu.

dr. Z: klo mau ambil spesialis, kaya dr.A tuh. pinter, baru lulus langsung
masuk.
dr. A: aah. tapi kurang pengalamannya.


setelah gw telusuri, dr.A ini ternyata emang baru lulus tahun lalu (feb 2007). kan PLD ada yg september, ada yang februari/maret. dan ternyata, dr.A ini backingannya mantep cuy! bapaknya gak sekedar dokter, tapi juga direktur rumah sakit yang cukup besar di Jakarta Pusat. yang kaya gini nih, yang suka terlupakan dalam kelancaran mengambil spesialis.

how to treat hordeolum

ini ketiga kalinya gw mengalami hordeolum. lebih tepatnya kemaren.

yang pertama, berlangsung sekitar seminggu. 3 hari ga menghilang, akhirnya gw ke dokter umum dan di kasih salep chloramphenicol.

yang kedua, sehari aja sih.. soalnya abis itu bisa kempes sendiri.. dan emang sih ga mengganngu bgt.

nah kemaren terjadi lagi untuk ketiga kalinya.. gw udah merasakan palpebra (kelopak mata) gw nyeri dari hari jumat... tapi pas hari sabtu ternyata bengkaknya makin besar.. dan gw mulai panik + sebel karena gw jadi ga bisa belajar, karena penglihatan gw terganggu karena pseudoptosis (semi-tidak bisa membuka kelopak mata).

untungnya gw berinisiatif membuka buku Ilmu Penyakit Mata karangan Prof.dr. Sidarta Ilyas, Sp.M. dan disitu gw menemukan bahwa sebenernya hordeolum ini bisa sembuh sendiri. bisa dibantu dengan kompres hangat 10 menit 3 kali sehari.

alhamdulillah terbukti efektif.. karena hari minggu ini mata palpebra gw udah normal lagi..
tapi tetep aja sih,, ga belajar2 juga.. hehehe

WHO AND UNAIDS ANNOUNCE RECOMMENDATIONS FROM EXPERT CONSULTATION ON MALE CIRCUMCISION FOR HIV PREVENTION

News Release WHO/10

28 March 2007

EMBARGOED: Wednesday, 28 March, 12.00 GMT, 14.00 CET

WHO AND UNAIDS ANNOUNCE RECOMMENDATIONS FROM EXPERT CONSULTATION ON MALE CIRCUMCISION FOR HIV PREVENTION

Paris/Geneva, 28 March 2007-- In response to the urgent need to reduce the number of new HIV infections globally, the World Health Organization (WHO) and the UNAIDS Secretariat convened an international expert consultation to determine whether male circumcision should be recommended for the prevention of HIV infection.

Based on the evidence presented, which was considered to be compelling, experts attending the consultation recommended that male circumcision now be recognized as an additional important intervention to reduce the risk of heterosexually acquired HIV infection in men. The international consultation, which was held from 6-8 March 2007 in Montreux, Switzerland, was attended by participants representing a wide range of stakeholders, including governments, civil society, researchers, human rights and women's health advocates, young people, funding agencies and implementing partners.

"The recommendations represent a significant step forward in HIV prevention", said Dr Kevin De Cock, Director, HIV/AIDS Department, World Health Organization. "Countries with high rates of heterosexual HIV infection and low rates of male circumcision now have an additional intervention which can reduce the risk of HIV infection in heterosexual men. Scaling up male circumcision in such countries will result in immediate benefit to individuals. However, it will be a number of years before we can expect to see an impact on the epidemic from such investment."

There is now strong evidence from three randomized controlled trials undertaken inKisumu, Kenya, Rakai District, Uganda (funded by the US National Institutes of Health) and Orange Farm,South Africa (funded by the French National Agency for Research on AIDS) that male circumcision reduces the risk of heterosexually acquired HIV infection in men by approximately 60%. This evidence supports the findings of numerous observational studies that have also suggested that the geographical correlation long described between lower HIV prevalence and high rates of male circumcision in some countries in Africa, and more recently elsewhere, is, at least in part, a causal association. Currently, an estimated 665 million men, or 30 % of men worldwide, are estimated to be circumcised.

Male circumcision should be part of a comprehensive HIV prevention package

Male circumcision should always be considered as part of a comprehensive HIV prevention package, which includes the provision of HIV testing and counselling services; treatment for sexually transmitted infections; the promotion of safer sex practices; and the provision of male and female condoms and promotion of their correct and consistent use.

Counselling of men and their sexual partners is necessary to prevent them from developing a false sense of security and engaging in high-risk behaviours that could undermine the partial protection provided by male circumcision. Furthermore, male circumcision service provision was seen as a major opportunity to address the frequently neglected sexual health needs of men.

“Being able to recommend an additional HIV prevention method is a significant step towards getting ahead of this epidemic,” said Catherine Hankins, Associate Director, Department of Policy, Evidence and Partnerships at UNAIDS. “However, we must be clear: male circumcision does not provide complete protection against HIV. Men and women who consider male circumcision as an HIV preventive method must continue to use other forms of protection such as male and female condoms, delaying sexual debut and reducing the number of sexual partners.”

Health services need strengthening to provide quality services safely

Health services in many developing countries are weak and there is a shortage of skilled health professionals. There is a need, therefore, to ensure that male circumcision services for HIV prevention do not unduly disrupt other health care programmes, including other HIV/AIDS interventions. In order to both maximize the opportunity afforded by male circumcision and ensure longer-term sustainability of services, male circumcision should, wherever possible, be integrated with other services.

The risks involved in male circumcision are generally low, but can be serious if circumcision is undertaken in unhygienic settings by poorly trained providers or with inadequate instruments. Wherever male circumcision services are offered, therefore, training and certification of providers, as well as careful monitoring and evaluation of programmes, will be necessary to ensure that these meet their objectives and that quality services are provided safely in sanitary settings, with adequate equipment and with appropriate counselling and other services.

Male circumcision has strong cultural connotations implying the need also to deliver services in a manner that is culturally sensitive and that minimizes any stigma that might be associated with circumcision status. Countries should ensure that male circumcision is provided with full adherence to medical ethics and human rights principles, including informed consent, confidentiality, and absence of coercion.

Maximizing the public health benefit

A significant public health impact is likely to occur most rapidly if male circumcision services are first provided where the incidence of heterosexually acquired HIV infection is high. It was therefore recommended that countries with high prevalence, generalized heterosexual HIV epidemics that currently have low rates of male circumcision consider urgently scaling up access to male circumcision services. A more rapid public health benefit will be achieved if age groups at highest risk of acquiring HIV are prioritized, although providing male circumcision services to younger age groups will also have public health impact over the longer term. Modeling studies suggest that male circumcision in sub-Saharan Africa could prevent 5.7 million new cases of HIV infection and 3 million deaths over 20 years.

Experts at the meeting agreed that the cost-effectiveness of male circumcision is acceptable for an HIV prevention measure and that, in view of the large potential public health benefit of expanding male circumcision services, countries should also consider providing the services free of charge or at the lowest possible cost to the client, as for other essential services.

In countries where the HIV epidemic is concentrated in specific population groups such as sex workers, injecting drug users or men who have sex with men, there would be limited public health impact from promoting male circumcision in the general population. However, there may be an individual benefit for men at high risk of heterosexually acquired HIV infection.

More research needed to further inform programme development

Experts at the meeting identified a number of areas where additional research is required to inform the further development of male circumcision programmes. These included the impact of male circumcision on sexual transmission from HIV-infected men to women, the impact of male circumcision on the health of women for reasons other than HIV transmission (e.g. lessened rates of cancer of the cervix), the risks and benefits of male circumcision for HIV-positive men, the protective benefit of male circumcision in the case of insertive partners engaging in homosexual or heterosexual anal intercourse, and research into the resources needed for, and most effective ways, to expand quality male circumcision services. Research to determine whether there are modifications in perceptions and HIV risk behaviour over the longer term in men who are circumcised for HIV prevention, and in their communities, will also be essential.

_[translation in Indonesian]_

*EMBARGO: Rabu, 28 Maret , 12.00 GMT, 14.00 CET *

* *

*WHO DAN UNAIDS MENGUMUMKAN HASIL KONSULTASI AHLI TENTANG SUNAT LAKI-LAKI
UNTUK PENCEGAHAN HIV*

* *

*Paris/Geneva, 28 Maret 2007**-- * Sebagai tanggapan dari kebutuhan
mendesak untuk mengurangi jumlah infeksi HIV baru secara global, Badan
Kesehatan Dunia (WHO) dan Sekretariat UNAIDS mempertemukan para ahli
internasional dalam sebuah konsultasi untuk menentukan apakah sunat
laki-laki sebaiknya dianjurkan bagi upaya pencegahan infeksi HIV.

Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan, yang dianggap sangat meyakinkan, para
ahli yang menghadiri konsultasi tersebut menganjurkan agar sunat laki-laki
kini diakui sebagai suatu intervensi penting tambahan yang dapat mengurangi
risiko penularan HIV lewat hubungan heteroseksual bagi laki-laki. Konsultasi
internasional tersebut diselenggarakan dari 6-8 Maret 2007 diMontreux,
Switzerland
, dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari berbagai
sektor, termasuk pemerintahan, masyarakat sipil, peneliti, aktivis hak asasi
manusia dan kesehatan perempuan, orang muda, lembaga donor dan para mitra
pelaksana.

"Rekomendasi ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam upaya
pencegahan HIV," kata Dr. Kevin De Cock, Direktur, HIV/AIDS Department,
Badan Kesehatan Dunia. "Negara-negara dengan tingkat infeksi HIV melalui
hubungan heteroseksual yang tinggi dan yang memiliki tingkat sunat laki-laki
yang rendah, kini memiliki alat intervensi tambahan yang dapat mengurangi
risiko infeksi HIV pada laki-laki heteroseksual.
Menggiatkan sunat laki-laki
di negara-negara tersebut akan menghasilkan manfaat pada individu-individu.
Namun dampak dari investasi seperti ini terhadap epidemi masih akan lama
terlihatnya. "

Kini telah ada bukti kuat dari tiga ujicoba terkendali secara acak yang
dilakukan di Kisumu, Kenya; Distrik Rakai, Uganda (dibiayai oleh US National
Institutes of Health) dan Orange Farm, Afrika Selatan (dibiayai oleh French
National Agency for Research on AIDS) bahwa sunat laki-laki mampu mengurangi
risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual pada laki-laki sebesar
60%. Hal ini mendukung berbagai temuan dari penelitian-peneliti an observasi
yang juga menyiratkan bahwa hubungan geografis yang telah lama digambarkan
antara prevalensi HIV yang lebih rendah dan tingkat sunat laki-laki yang
lebih tinggi dalam beberapa negara di Afrika, dan baru-baru ini di
tempat-tempat lain, paling tidak merupakan hubungan sebab-akibat. Saat ini,
diperkirakan ada 665 juta laki-laki, atau 30% laki-laki di seluruh dunia,
yang telah disunat.

*Sunat laki-laki sebaiknya menjadi bagian dari paket komprehensif pencegahan
HIV *

Sunat laki-laki harus selalu dipertimbangkan sebagai bagian dari paket
komprehensif pencegahan HIV, yang termasuk penyediaan pelayanan testing dan
konseling HIV; pengobatan untuk infeksi menular seksual; promosi
praktik-praktik seks aman; serta penyediaan kondom laki-laki dan perempuan
dan promosi terhadap cara penggunaan kondom yang tepat dan konsisten.

Konseling bagi laki-laki dan pasangan seksual mereka sangatlah penting untuk
mencegah timbulnya perasaan aman yang keliru dan melakukan perilaku berisiko
tinggi sehingga menghambat perlindungan parsial yang didapat dari sunat
laki-laki. Selain itu, penyediaan pelayanan sunat laki-laki dipandang
sebagai kesempatan baik untuk membahas kebutuhan kesehatan seksual bagi
laki-laki yang sering terlewatkan.

"Dapat merekomendasikan metode pencegahan HIV tambahan merupakan langkah
yang signifikan menuju pengendalian epidemi ini," kata Catherine Hankins,
Associate Director, Bagian Kebijakan, Bukti dan Kemitraan di UNAIDS. "Namun
kita harus jelas: sunat laki-laki tidak memberikan perlindungan menyeluruh
terhadap HIV. Laki-laki dan perempuan yang menganggap sunat laki-laki
sebagai alat pencegahan HIV harus terus menggunakan berbagai bentuk
perlindungan lain seperti kondom laki-laki dan perempuan, menunda debut
seksual dan mengurangi jumlah pasangan seksual."

*Pelayanan kesehatan harus diperkuat untuk menyediakan pelayanan berkualitas
yang aman*

Banyak pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang yang lemah dan
kekurangan jumlah profesional kesehatan. Sehingga ada kebutuhan untuk
memastikan bahwa pelayanan sunat laki-laki untuk pencegahan HIV tidak
mengganggu program-program perawatan kesehatan lainnya, termasuk intervensi
HIV/AIDS lainnya. Untuk mengoptimalkan kesempatan yang diberikan dari sunat
laki-laki dan memastikan keberlangsungan jangka panjang bagi pelayanan
tersebut, sunat laki-laki, sebagaimana mungkin, perlu diintegrasikan dengan
pelayanan lain.

Risiko yang dihadapi dari sunat laki-laki secara umum rendah, namun dapat
berakibat serius bila sunat dilakukan di tempat yang tidak higienis dan
dilakukan oleh penyedia layanan yang tidak ahli, atau dengan peralatan yang
tidak memadai. Maka, pelatihan dan sertifikasi bagi penyedia layanan, selain
juga program-program monitoring dan evaluasi yang cermat, dibutuhkan bagi
tempat-tempat yang menyediakan layanan sunat laki-laki, untuk memastikan
bahwa tujuan dari sunat terpenuhi dan pelayanan berkualitas diberikan dengan
aman dalam kondisi tersanitasi, dengan peralatan yang memadai dan dengan
pelayanan konseling yang tepat.

Sunat laki-laki memiliki konotasi budaya yang kuat sehingga membutuhkan
penyediaan layanan dengan cara yang sensitif secara budaya dan yang dapat
meminimalisir stigma yang mungkin diasosiasikan dengan status sunat.
Negara-negara sebaiknya memastikan bahwa sunat laki-laki disediakan dengan
kepatuhan penuh terhadap etika medis dan prinsip-prinsip hak asasi manusia,
termasuk persetujuan dengan informasi, kerahasiaan, dan tidak adanya
paksaan.

*Memaksimalkan manfaat kesehatan masyarakat*

Dampak kesehatan masyarakat yang signifikan mungkin akan terjadi begitu
pelayanan sunat laki-laki pertama kali diberikan di tempat dimana penularan
HIV melalui hubungan hetereseksual tingkatnya tinggi. Sehingga
direkomendasikan bagi negara-negara dengan prevalensi tinggi dan epidemi
umum HIV heteroseksual yang sekarang memiliki tingkat sunat laki-laki yang
rendah untuk dengan segera memutuskan adanya peningkatan terhadap akses
pelayanan sunat laki-laki. Manfaat lebih cepat bagi masyarakat akan tercapai
bila kelompok usia yang paling tinggi berisiko terkena HIV dapat
diprioritaskan, walaupun menyediakan pelayanan sunat laki-laki kepada
kelompok usia yang lebih muda akan lebih memberi dampak jangka panjang bagi
kesehatan masyarakat. Contoh-contoh yang ada menunjukkan bahwa sunat
laki-laki di Afrika sub-Sahara dapat mencegah 5.7 juta kasus infeksi HIV
baru dan 3 juta kematian dalam waktu 20 tahun.

Para ahli yang hadir dalam pertemuan menyetujui bahwa sunat laki-laki yang
hemat biaya ini dapat diterima sebagai alat pencegahan HIV dan, bila dilihat
dari kemungkinan manfaat kesehatan bagi masyarakat untuk memperluas
pelayanan sunat laki-laki, negara-negara harus juga mempertimbangkan
menyediakan pelayanan tersebut secara gratis, atau dengan harga termurah
untuk pasien, seperti juga untuk pelayanan penting lainnya.

Di negara-negara dimana epidemi HIV terkonsentrasi pada kelompok-kelompok
populasi tertentu seperti pekerja seks, pengguna napza suntik atau laki-laki
yang berhubungan seks dengan laki-laki, dampak kesehatan masyarakat dari
promosi sunat kepada masyarakat umum akan terbatas. Namun mungkin tetap ada
manfaat individu bagi laki-laki berisiko tinggi dari infeksi HIV melalui
hubungan heteroseksual.

*Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menyediakan informasi pengembangan
program*

Para ahli pada pertemuan tersebut mengidentifikasi beberapa area dimana
penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menyediakan informasi untuk
pengembangan program-program sunat laki-laki. Hal ini termasuk dampak sunat
laki-laki terhadap penularan seksual dari laki-laki HIV positif kepada
perempuan, dampak sunat laki-laki terhadap kesehatan perempuan untuk
alasan-alasan selain penularan HIV (misalnya tingkat kanker cervix yang
lebih rendah), risiko dan manfaat sunat laki-laki bagi laki-laki HIV
positif, manfaat perlindungan dari sunat laki-laki dalam homoseksual atau
heteroseksual anal intercourse, serta penelitian mengenai sumberdaya yang
dibutuhkan, dan yang paling efektif, untuk memperluas kualitas pelayanan
sunat laki-laki. Penelitian untuk menentukan apakah ada modifikasi persepsi
dan perilaku berisiko jangka panjang untuk laki-laki yang telah sunat untuk
pencegahan HIV, dan dalam masyarakat mereka, juga dibutuhkan.

baru browsing...

ceritanya scora UI memilih menjadi Center of Excellence untuk Cervical Cancer waktu di munas scora november 2006 kemaren...
sebenernya pengetahuan gw tentang Ca-Cervix dikit bgt...
gw coba-coba browse di internet biar gw ga bego-bego amat masalah ca-cervix...
ternyata ada banyak bgt...
yang terpercaya kan yang dari WHO... nah,, pas lagi seru-serunya mendonlod... tiba2 keputus. mampet koneksinya.. yah,, namanya manfaatin gratisan wifi kampus...
yang berhasil ke baca ma gw baru satu file,,mau gw share di sini... ntar kalo gw udah dapet
pengetahuan baru,, atau udah berhasil mendonlod filenya
who dan berhasil mengkhatamkannya (halamannya 200lebih... malah bhs. inggris gw o'on),,, akan gw post di blog ini...

* diambil dari Fact Sheet Pan American Health Organization (regional office of the World Health
Organization)

*sayangnya ga ditulis dipublikasikan tahun berapa..

Fakta-fakta Kanker Serviks

- diperkirakan, secara global 466 000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis tiap tahunnya.
- 231 000 wanita per tahun meninggal karena kanker serviks. 80% diantaranya dari negara berkembang.
- menghabiskan biaya sekitar 100$ US untuk skrining satu wanita tiap lima tahun
- menghabiskan biaya sekita 2 600$ US untuk mengobati satu wanita dengan kanker serviks

kanker serviks disebabkan oleh perubahan pada sel yang membatasi dinding serviks (bagian bawah rahim yang menghubungkan uterus ke vagina atau kanal lahir). sel bisa tiba-tiba menjadi kanker, bahkan pada 50% wanita dengan lesi pra-kanker, selnya jinak (pre-kanker). kanker
serviks pada stadium awal seringnya tanpa gejala, karena itu biasanya tidak terdeteksi sampai menjadi parah

faktor risiko paling sering untuk kanker serviks adalah terpapar oleh Human Papillomavirus (HPV). HPV adalah infeksi menular seksual, yang dapat atau tidak dapat disertai gejala. karena HPV biasanya asimptomatik, HPV dapat berjalan untuk periode yang lama tanpa terdeteksi.

faktor risiko lainnya untuk kanker serviks:
- tidak melakukan skrining teratur
- melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia muda
- memiliki banyak pasangan seksual, atau berhubungan seksual dengan pasangan yang memiliki banyak pasangan seksual
- HIV positif, yang mana melemahkan sistem imun dan membuat lebih rentan terinfeksi HPV- riwayat keluarga kanker serviks
- grup usia - wanita usia 30-60 paling berisiko dan risiko juga meningkat bersama usia
- merokok
- status sosioekonomi
- karena wanita miskin kurang akses untuk skrining dan pelayanan pengobatan, insiden dan
mortalitasnya lebih tinggi

kanker serviks adalah salah satu kanker yang dapat dideteksi oleh karena itu dapat dicegah karena pekembangannya sangat bertahap. dengan begitu, melalui regular skrining, memudahkan mendeteksi dan mengobati sebelum ia menyabar. kanker serviks juga bentuk kanker yang lebih terlihat daripada misalnya kanker payudara. daripada melihat sel melalui gambar x-ray atau biosi, genekolog dapat mengkerok sel dari dinding serviks dan
melihatnya dibawah mikroskop.

Alat yang paling utama untuk melawan kanker serviks adalah pencegahan. pencegahan paling baik dicapai dengan regular skrining. ini menjadi tantangan penting untuk wanita, terutama wanita miskin.

- wanita miskin, terutama pada negara-negara berkembang biasanya tidak memiliki akses untuk pelayanan kesehatan gratis, atau tidak mampu untuk membayar biaya skrining.
namun pelayanan tersebut lebih tersedia di perkotaan, yang merupakan menjadi penghalang untuk wanita-wanita pedesaan.
- wanita biasanya mementingkan kesehatan keluarganya daripada dirinya sendiri, jadi jika uang untu dokter tersedia akan digunakan untuk anaknya daripada ibunya.
- ketakutan dari pasangannya juga menakut-nakuti wanita untuk melakukan cek-up regular skrinig. suaminya akan menolak untuk menemani istrinya ke genekolog, membayar skrining, atau transportasi ke klinik/rumah sakit.
- pada kumpulan masyarakat tertentu wanita tidak memiliki kontrol pada hubungan seksualnya. ya atau tidaknya wanita dapat mengkontrol dengan siapa ia berhubungan seksual
adalah rumit dalam menentukan apakah ia dapat melindungi dirinya dari paparan HPV.
- pengalaman negatif dengan dokter atau pekerja kesehatan pada umumnya dapat mencegah wanita untuk melakukan cek-up regular skrining.
- kurangnya informasi tentang prosedur skrining, atau takut akan hasil juga dapat berperan sebagai penghalang untuk cek-up regular skrining.

Insiden dan keparahan penyakit dapat dideteksi dan dicegah semestinya menjadi suatu panggilan untuk para profesional keshatan, policy-makers, dan advokasi gender.

- pesan tentang kanker serviks harus berupa pencegahan bukan pengobatan penyakitnya dan konsekuensinya. skrining, bila tersedia harus didukung dan wanita-wanita harus secara luas diinformasikan tentang proses dan manfaatnya.
- Kemampuan wanita untuk mengkontrol seksualnya dan kesehatan reproduksinya menjadi prioritas gender beberapa tahun ini, ini juga harus menjadi prioritas kesehatan masyarakat. tidak hanya untuk melindungi dari penyebaran HPV dan kanker serviks, tetapi juga memperlambat penyebaran HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual lainnya.
- dokter dan pekerja kesehatan lainnya harus terlatih untuk mengenali bahwa gender dan tempat wanita berada dalam masyarakat mempunya efek pada kesehatannya.

*****

hehehe,,, maaf banget yah,,, informasi yang gw sampaikan ini aga2 aneh... abis bahasa inggris gw pas-pasan...
trus juga kayanya fact sheet ini udah aga basi gitu...

tapi paling engga,, gw berusaha untuk menginformasikan tentang kanker serviks..

kan klo tag line scora...

The only way of fighting HIV/AIDS is through prevention.
The only way of prevention is through education.

klo menurut gw tag line itu bisa dibikin lebih general..

the only way of fighting diseases is trough prevention.
the only way of prevention is trough education.


_nads_

10 facts about cancer

10 facts about cancer ini gw ambil dari www.who.int


1. There are more than 100 types of cancers; any part of the body can be affected.


2. In 2005, 7.6 million people died of cancer - 13% of the 58 million deaths worldwide.


3. More than 70% of all cancer deaths occur in low and middle income countries.


4. Worldwide, the 5 most common types of cancer that kill men are (in order of frequency): lung, stomach, liver, colorectal and oesophagus.


5. Worldwide, the 5 most common types of cancer that kill women are (in the order of frequency): breast, lung, stomach, colorectal and cervical.


6. Tobacco use is the single largest preventable cause of cancer in the world.


7. One fifth of all cancers worldwide are caused by a chronic infection, for example human papillomavirus (HPV) causes cervical cancer and hepatitis B virus (HBV) causes liver cancer.


8. A third of cancers could be cured if detected early and treated adequately.


9. All patients in need of pain relief could be helped if current knowledge about pain control and palliative care were applied.


10 . 40% of cancer could be prevented, mainly by not using tobacco, having a healthy diet, being physically active and preventing infections that may cause cancer.

_nads_

Tes Yuuukkk

tulisan di blog gw kali ini gw ambil dari http://eu.staying-alive.org/stayingalive/shells/know_the_facts.jhtml?article=30101893
sengaja ga gw terjemahin, karena menurut gw bahasa inggrisnya juga cukup mudah.
sengaja gw post artikel ini, karena menurut gw artikel ini cukup penting.

___________________________________________________________________

Getting tested for HIV

Although it can be a frightening prospect, knowing your HIV status (whether you are HIV positive or HIV negative) can help you make important decisions and plans for the future. There are many reasons why you might consider getting tested. Here are some of the main reasons you may want talk with a health care provider about taking a test:


  • had sexual intercourse (vaginal, oral, or anal) without a condom or dental dam (thin, square pieces of latex or polyurethane for oral sex)
  • learned that a partner was not monogamous (had sex with another partner)
    have been sexually assaulted
  • had a condom break during sex
  • shared needles or syringes, or found out that a partner has shared needles
    had multiple sexual partners
  • discovered that a partner has been exposed to HIV or learned that a past or current partner is HIV-positive
  • had a recent diagnosis of another sexually transmitted infection (STI)
  • are pregnant.




How the test works: When you get an HIV test, a lab tests your blood for antibodies that your immune system produces to fight off the HIV virus. Although these antibodies can't destroy the virus, their presence in the blood can be used to confirm that you've been infected. If the test detects antibodies then you are HIV positive.

When to get tested: Most blood tests can detect HIV infection within three months of initial exposure to the virus, but it can sometimes take up to six months for antibodies to reach detectable levels. It is generally recommended that take a test six months after the last possible exposure.. If you get tested shortly after exposure then you should take another test a few months later to confirm the result.

What to do next
Getting the results of your HIV test is an emotional event and whatever the outcome, you need to think about what to do next.
If you are HIV negative, make sure that you continue to protect yourself at all times. If you are having sex, ensure that you're using condoms correctly and that you use one every time. If you inject drugs, be sure to use sterilized needles and syringes each time, and don't share your equipment. You should also take another test about six months later to confirm the negative result.
If you are HIV positive, the sooner you take steps to protect your health, the better. Medical treatment and a healthy lifestyle can help you stay well. The proper treatment may delay the onset of AIDS and prevent some life-threatening conditions. You should...

See a doctor, even if you don't feel sick. If possible, see a doctor who has experience treating HIV. Consulting someone about your treatment options is an important first step.
Get a tuberculosis test done. TB often goes hand-in-hand with HIV - you may already be infected with TB and not know it. TB is a serious illness but can be treated successfully if caught early.
Be good to your immune system. Smoking cigarettes, drinking too much alcohol or using other recreational drugs can weaken your immune system. If you need help quitting, talk to your doctor about substance abuse programs.
Find a support system. The emotional and physical challenges ahead can be difficult and having people around who understand what you're going through can be an enormous help. Ask your doctor about counselors and support groups.

_____________________________________________________________________
tes yuk di Pokdisus RSCM!!!!

Pokdisus HIV/AIDS, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jl. Diponogoro 71 Gedung 3 Lantai 2 Jakarta Pusat

Setiap Senin - Jumat
Jam 10.00 - 17.00
Telp : 021-390 5250, 021-316 2788


atau *gw nemu juga niii dari browsing...*

Klinik VCT AWANAMA, Yayasan Pelita Ilmu
Jl. Kebon Baru IV No. 6 Tebet Jakarta 12830

Setiap Senin & Jumat
Jam 16.00 - 19.00
Telp : 021-873 96480, 021-837 05780


*to SCORAngels,,
tes bareng-bareng yuukk...
jangan sampe kita mengkampanyekan untuk orang lain tapi kita ga peduli ma diri kita sendiri...


_nads_

ternyata gw udah lama punya blog di sini

GILE!!!

ternyata gw udah lama punya blog di sini...
tapi ternyata gw ga pernah update... sebelumnya gw cukup sering blogging di frenster...
aniway,, kayanya gw mo mulai blogging di sini aja...

sebelumnya gw lagi nulis di blog yahoo360... sumpah gw bete bgt. udah nulis panjaaaaaaaaaang bgt....
trus tiba2 muncul pertanyaan yang jawabannya antara "working offline" atau "connect"
tau ga gw pilih apa?
gw pilih gambar silang yang ada dipojok kanan atas.
hasilnya???
ilang semua tulisan gw itu!!!
hiks.

yaudah... gw iseng aja cari nama gw di blogger.
kenapa gw cari nama gw?
narsis?
yup!

alkisah,,,
gw cinta banget ma nama gw...
ERNADIA
lengkapnya Ernadia Wulansari
gw dipanggilnya Nadia.
tapi waktu sd, smp, sma banyak yang panggil gw Ernad. just fine buat gw.
tapi sekarang semenjak gw kuliah, officially temen2 gw lebih kenal nama NADIA.
emang sih sekarang ada derivatnya jadi Nads atau Nadz atau apalah...
but i really proud of my name.
konon nama gw langka.
jadi klo tiap bikin account gw hampir selalu sukses cukup dengan nama depan gw, yaitu
ERNADIA.

sepertinya gw mau aktif nulis di sini aja..



ini gw,,, cuma satu orang aja seIndonesia yang punya nama Ernadia sampe penulisan ini gw publish.








_nads_



Blog Archive


Free chat widget @ ShoutMix